Anda penggila 'gadget'?
Hmmm tampaknya Anda bukanlah satu-satunya orang yang menjadi penikmat sekaligus 'korban gadget'. Kemunculan 'gadget' yang awalnya untuk memudahkan komunikasi seseorang justru berujung 'merusak' tatanan hidup manusia di muka bumi (silahkan keberatan jika tidak setuju dengan anggapan ini).
'Korban gadget'. Predikat ini layak disematkan bagi mereka yang tidak bisa hidup tanpa 'gadget' di tangannya. Setiap detik, menit, jam, tiada waktu tanpa memalingkan pandangan dari 'gadget'.
Banyak orang yang percaya, urusan gadget dan tekno merupakan dunianya kaum Adam. Tapi tidak menurut survey berikut ini. Perusahaan retail HSN menggelar survey yang melibatkan 2.000 orang laki-laki dan perempuan. Dalam survey yang dibuat menjelang akhir tahun lalu itu, para responden diminta untuk membuat daftar benda-benda yang ingin mereka beli sebelum memasuki tahun 2012.
Hasilnya, seperti diberitakan Mashable, perangkat elektronik lebih banyak masuk dalam daftar para wanita ketimbang pria.
Secara detail, 18% wanita menginginkan komputer tablet, 20% laptop dan 10% smart phone. Sedangkan bagi para pria, 15% menginginkan komputer tablet, 14% laptop dan 17% smartphone. Studi ini juga menunjukkan para wanita lebih terikat pada teknologi ketimbang para pria. Para wanita membeli rata-rata 4,7 produk elektronik setiap tahunnya, lebih tinggi jika dibandingkan para pria yang hanya 4,2 produk.
Wanita juga terbukti lebih efektif dalam menggunakan perangkat teknologi. Sekali menyalakan komputer, para wanita dapat menggunakan beberapa fiturnya sekaligus, seperti main games di Facebook, mengunduh musik, hingga menonton film secara online. Contoh konkret dari korban keganasan 'gadget' dapat kita sadari dalam kehidupan sehari-hari. Dulu belum ada 'gadget canggih' kalau berjalan seseorang menegakkan kepalanya dengan pandangan ke depan, tapi sejak memiliki 'gadget super canggih' di tangannya, seseorang berjalan menunduk lantaran sibuk memainkan 'gadget'-nya.
Lantas apa perlu 'gadget' super canggih dibasmi dari muka bumi? Atau hanya perlu dibatasi peredarannya? Saran saya sebaiknya menyadari fungsi semula 'gadget' secara seksama sehingga Anda tidak kebablasan menjadi 'korban gadget' yang dimiliki. Jangan sampai 'gadget' yang sepatutnya menjadi 'penolong' kehidupan Anda justru menjadi 'sumber masalah'




